Hari Ulang Tahun Yuna


Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya. Aku habiskan setiap detik demi detik bersama teman-temanku, di sebuah bendungan air, dekat rumahku. Angin sepoi dan lantunan nada dari gitar, ramaikan suasana pinggiran danau tempatku tinggal.

Suasana malam semakin larut, canda demi canda terlontar diantara kami. Saling membully, berargumen tentang tim sepakbola kesayangan, dan saling melontarkan lawakan, sudah menjadi kebiasaanku melewati setiap malam, itulah canda persahabatan yang biasa kami lakukan.

Di antara riuh tawa malam itu, tak terasa sudah larut tengah malam kami bersama. Sampai tiba saat dimana ponselku berbunyi. Awalnya aku pikir sebuah pesan singkat dari ayahku untuk segera pulang, tapi tidak demikian dengan apa yang terjadi.

Bunyi itu mengingatkanku akan sesuatu. Ya, aku ingat, itu adalah alarm yang aku pakai untuk memberi tanda hari spesial dalam catatan memo ponselku. Perlahan aku tarik ponsel itu dan mulai ku tatap layar kecilnya.
"Heavy B'death my lovely, Yuna. 18thn."
Sempat aku terkejut. Itu jelas diluar perkiraanku. Tertanda tanggal 20 maret, memo itu berbunyi. Ternyata ini hari ulang tahun Yuna, pacar yang sudah lama putus dariku. Tapi, meskipun begitu kami tetap sering bertemu dan beradu kemesraan bersama, meski dibalik hubungan tanpa status...

Aku sangat sayang padanya, susah untuk melupakan semua yang pernah kami lalui bersama. Tapi, sejauh ini yang aku bisa cuma diam. Sampai aku punya nyali untuk mengatakan bahwa aku masih mencintainya...

Sengaja memo di ponselku yang dulunya "Happy Birthday, Yuna.", aku ganti "Heavy B'death, Yuna." setelah 11 bulan kami berpisah, secara status, untuk mengingatkanku bahwa itu tidak lagi sepenuhnya hakku untuk menanyakan kado apa yang dia harapkan untuk berkurangnya usia Yuna tahun ini.

Sengaja malam itu aku bergegas pulang lebih dulu. Dengan alasan bahwa aku disuruh untuk segera pulang, oleh orangtuaku. Sesampainya di rumah, aku bergegas masuk ke kamar. Tiduran di kasur nan empuk, sambil memikirkan apa yang sebaiknya aku lakukan untuk Yuna hari ini.

Sambil berbaring, aku memikirkan sesuatu tentang Yuna. Dia adalah pacar terlamaku di SMA, sekaligus dalam hidupku sejauh ini. 1 tahun bersamanya, hubungan kami kandas saat kami mulai egois satu sama lain. Itu jadi kali ke 4 aku putus dengannya. Setelah 3 kali sebelumnya, kami sempat putus, dan aku mengajaknya balikan. Ya, selama 3 kali berturut-turut kami kembali merajut hubungan kami, dan selalu aku yang harus memulainya.

Aku tau, seorang laki-laki memang selayaknya mengimami wanitanya dalam segala hal, mungkin juga termasuk soal mengajaknya balikan. Setelah beberapa kali muncul kata berpisah yang keluar dari mulut kami berdua. Tetap, selalu aku yang kembali memulai semuanya...

Malam itu aku berpikir tentang kebiasaan Yuna selama ini. Dia selalu jadi pendengar setia setiap cerita yang muncul dariku. Meskipun, dia hanya mendengarkanku, tanpa memberi timbal balik dari setiap cerita yang aku berikan padanya. Dia hanya tersenyum, tertawa, dan bertanya: "terus gimana?" "lucu banget ceritanya hehe..." "Sabar yaaa...hehehe"

Yuna tak pernah sekalipun mau ikut cerita tentang apa yang dia rasakan, setidaknya itu sangatlah jarang terjadi. Dia cenderung lebih suka mendengarkanku. Tapi itulah yang jadi masalahnya, aku terkadang mulai jenuh dengan sikapnya yang menurutku cuek. Dia cuma bisa mendengarkanku, tanpa memberikanku topik pembicaraan. Aku selalu kualahan mencari topik agar pembicaraan kami tidak membosankan...

Sengaja aku belum mengirimkannya sebuah pesan singkat pagi itu, namun sepertinya tak bertahan lama, akhirnya aku kirimkan sebuah pesan singkat padanya.

"Selamat ulang tahun, Yuna. Eh sekarang kita seumuran ya! ditunggu lho traktirannya hehe :D"  
Itulah sebuah pesan singkatku padanya. Yuna, dia adalah adik kelasku di SMA, yang sekarang genap berumur 18 tahun, sama sepertiku. 

Tak lama kemudian, Yuna pun membalas pesan yang ku kirimkan padanya pagi itu. Ternyata saat itu dia belum tidur...

"Iya, makasih ya ip. hahaha iya, aku sekarang seumuran sama kamu ya. Soalnya kamu ulang tahunya akhir taun gitu sih. :p" balasnya.
"Sialan kamu.. haha. iya, aku kan bulan oktober, gak sampek setahun sebelum kamu. Sekarang kamu tambah tua kan?? :p" ledekku padanya.
"Alaaah sama aja, yang penting sekarang kan udah sama-sama 18 tahun hehe. :D" 

Belum sempat aku membalasnya, ponselku mati karena lowbat. Terpaksa aku sudahi pembicaraan sangat singkat bersama Yuna pagi ini, dan aku pun mulai terlelap dalam heningnya suasana malam itu sambil berkata dalam hati; mimpi indah ya, Yuna.
*****
Pagi itu aku sengaja bangun lebih awal. Setelah menjlankan ibadah solat subuh, aku bergegas mandi dan bersiap untuk kuliah padatku hari itu. Setelah semua selesai aku persiapkan, bergegas aku panaskan motorku dan pergi ke kampus.

Pepohonan hutan wisata tempatku berangkat seolah berikan aku semangat baru. Sejuknya embun pagi, daun-daun yang berguguran, dan kicauan burung merdu yang menyapa jalanku, hari itu aku merasa sangat bahagia. 

Setelah 45 menit, akhirnya aku sampai di kampus. Mata kuliah satu persatu telah aku ikuti, sampai tiba mata kuliah terakhir, aku mulai kehilangan fokus belajarku. Aku bergegas mengambil ponsel dalam tasku, dan mengirimkan pesan singkat pada Yuna.

"Pagi Yun, lagi sibuk pelajaran apa?" sapaku singkat lewat sms. Tak berapa lama, Yuna pun membalas pesan singkatku, dan kami ngobrol cukup lama.

"Halo ip? hehe. Nggak sibuk kok, ini lagi jam kosong ditinggal guru rapat di kantor tadi. kamu gak kuliah?"
"Enggak kok. Punyaku lagi kuliah tapi bikin boring, makanya aku sms kamu hehe."
"Ohh kirain kamu bolos kuliah kayak biasanya hehe"
"Ah kamu! haha. Btw, kapan aku ditraktir makan-makan? mosok ulang tahun gak ada acara traktirannya? hehe"
"Yaah ip, ayahku belom pulang dari kemarin. Beliau masih ngurus kerjaannya di Surabaya. gimana dong? sorry yaa. ;("

Membaca sms itu, akhirnya aku punya sebuah ide untuk mengajaknya makan bersama, dan aku yang akan mentraktir Yuna. Aku harap itu bisa jadi moment dimana dia lebih peka untuk tau, kalo aku masih sayang sama dia. Dan yang aku butuhkan hanya rasa "peka" darinya, untuk memberiku respon positif pada sikap yang aku tunjukkan padanya kali ini.

*****

Tiba saat dimana kuliah telah selesai. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju parkiran sepeda motor kampus untuk segera pergi membeli kado untuk Yuna. Apa yang Yuna suka? hal itu yang sempat aku pikirkan. Aku ingat, dari beberapa foto yang dia unggah lewat instagramnya, aku tau kalo Yuna sangat suka boneka Cokkie Monster dan Elmo.

Sampai juga aku disebuah toko boneka yang kata teman-temanku paling lengkap se-Jogjakarta. Aku langsung masuk dan mulai mencari boneka Elmo dan Monster Cokkie yang Yuna suka. Tapi sayang, baru beberapa saat lalu boneka Elmo berukuran sedang, dibeli seorang anak kecil bersama ibunya. Sempat aku kecewa, tapi aku harus memutar otak untuk dapatkan pengantinya...

Pandanganku akhirnya terhenti pada sebuah gantungan kunci yang lumayan besar, berbentuk salah satu karakter Cokkie Monster dan Elmo. Sempat aku berpikir, apa mungkin ini pantas aku berikan padanya? Tapi melihat budget yang aku bawa, belum untuk yang menraktirnya makan juga, akhirnya aku pilih gantungan kunci itu.

Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung membungkusnya dalam sebuah kotak kecil dengan kertas kado warna biru kesukaanya. Sungguh simpel dan romantis, pikirku dalam hati...

*****

Akhirnya, sampailah aku di rumahnya. Aku memang berencana menjemputnya sore itu, yahh... sekedar untuk mengajaknya makan dan ngobrol. Tak berapa lama aku menunggu, Yuna keluar dari rumah bersama Mamanya. Sempat aku berpamitan pada beliau, dan seketika aku pergi menuju tempat makan fastfood dekat rumahnya. 

Di tempat itu aku bercanda dan memberinya lelucon kecil untuk memecah suasana. Cerita demi cerita aku sugguhkan kepadanya. Memang, aku orang yang terkesan humoris dan terlalu menganggap bahwa aku sendiri tak ada waktu untuk berlarut-larut dalam sebuah kesedihan.
"Emm.. enak gak makananya? hehe."
"Iyaa.. enak kok. Siapa sih yang gak suka ayam goreng kayak ginian? nih apalagi kulit daging crispynya, kamu suka kan?"
"Hahaha... mulai deh. Udah, kamu makan aja kalo kamu suka. Paling enak dari ayam goreng kan emang kulitnya hhe" ucapku sambil tersenyum menatapnya.
"Ehh iya, aku punya sesuatu nih buat kamu. Gak mewah sih, tapi mudah-mudahan kamu suka ya?" kataku sambil menyodorkan sebuah bingkisan kotak kecil pada Yuna.
Yuna lantas menerima apa yang aku berikan padanya, dia kemudian membuka kado itu dengan raut muka bahagia becampur penasaran.
"Waaahhh! makasih banget lho ip! Hadiahnya lucu banget, ihh imut banget! heheh"
"Alhamdulillah deh kalo kamu suka hehe, aku gak sempet dapet yang ukuran lebih gedhe soalnya. Jadi, yaa cuman itu yang bisa aku dapet. Maaf yaa..."
"Alaah, nggak papa kok. Ini malah bagus, kecil, imut. Aku juga belom punya yang kayak ginian di kamar hehe. Makasih yaa.."
"Iya, sama-sama. Kan kamu yang lagi ulang tahun hehe"
Canda itu terus berlanjut selama beberapa saat. Hingga kami tak sadar kalau hari sudah semakin malam. Sampai tiba saat dimana aku harus segera mengakhiri pembicaraan kali ini dan mengajaknya pulang.

Sebelum pulang, aku sempat bertanya sesuatu pada Yuna, ya, soal seberapa peka dia kali ini, atas semua yang aku lakuin buat dia hari ini.
"Yun, sebelum pulang, aku mau nanya sesuatu nih.. boleh kan?"
"Ya jelas boleh dong. Emang mau nanya soal apa ip?"
"Hari ini kamu seneng gak?" tanyaku singkat dan serius padanya. Yuna pun menjawabnya dengan santai.
"Iya kok, seneng banget. Kenapa emngnya?"
"Nggak kok hehe... Emm.. Ada yang mau kamu omongin nggak sama aku sebelom pulang?"
"Ngomongin apa ya? Emm... oh iyaa, makasih banget, lho sekali lagi makasih. Udah baik banget ngasih kado sama aku. Maaf juga aku belom bisa nraktir kamu hari ini.." ucap Yuna dengan muka sedikit murung.
"Halah.. nggak papa kalo soal itu. Lain kali kan bisa hehe. Ada lagi gak yang lebih penting ya mau kamu omongin sama aku? hemm?" tanyaku serius lagi padanya.
"Ada dong, emm... Kamu pulangnya ati-ati ya? jangan ngebut. Kalo sampek rumah ntar terus sms aku lho hehe" jawabnya sambil bercanda menepuk pundakku.
"Yaudah, pulang aja yok. Keburu malem nih.." tambah Yuna lagi, sebelum sempat aku meneruskan pembicaraanku padanya.
Malam itu akhirnya rencanaku membuatnya paham tanpa memberitau apa yang sebenernya aku maksud, berakhir dengan kegagalan. Aku sempat kecewa pada Yuna, aku binggung, nggak mungkin aku ngomong langsung sama dia tentang apa yang aku maksud sebenarnya. Aku laki-laki, aku juga punya harga diri. Aku tak mungkin memberikan sebuah pernyataan secara terus menerus dan menganggapnya sebagai wujud dari ketulusan hatiku. Padahal, terkadang itu justru menjadi nampak sebagai sebuah kebodohan semata...

bersambung...

17 KOMENTAR

cihiiyy wkwkwk.. emang kadang jadi enak kalau statusnya udah nggak pacaran :D

Reply

eceilah nostalgia itu emang indah kok wkwkwkw, keep sabar ye bro :D

Reply

ending yang tragis.. hahaha... sabar bro :D

Reply

bener bangeet! haha :D

Reply

terkadang emang indah, tp biasanya nyesek wkwk :p

Reply

ini blom ending kalik -__-

Reply

Aheuuww.. Iya tuh, lebih indahan gak ada status dibanding punya status. Deg deggannya itu yang bikin indah :D

Reply

iyeee nyeseknya cuman kalo kita tau dia udah ada yang punya lagi. hahahaha :P

Reply

emang haha. curhat ya mas? wkwk :p

Reply

oh belom? masih ada yang syur lagi? ditunggu... :p

Reply

sebagai seorang lelaki kita harus tetap tegar! *sambil pergi dan berlalu...*

Reply

*numpang lewat* ciee galau ciee haha

Btw, itu artworknya warnain pake apa?

By: upiupil

Reply

Galau setaun yg lalu~

Pake Faber Castel yg pencil color clasic gitu hehe :)

Reply

Ngegantung gini, lanjutannya dong kak :D

Reply

Post a Comment

Terimakasih telah berbagi apresiasi dengan menulis komentar dalam postingan kali ini. Semoga bermanfaat. Ingat, you are what you write. So, jangan spaming dengan berkomentar tanpa membaca terlebih dahulu.