Cerpen: Cerita Calon Guru #1

Senang mengenalmu, Komandan!

Saat itu gue baru kelas 1 SMA disebuah sekolah yang katanya “favorit” di daerah gue. Itu masa menyenangkan yang pernah gue alami, saat bisa diterima di sebuah tempat yang dulunya juga tempat bernaung sodara-sodara gue dalam menimba ilmu. Kedua kakak gue, bahkan istri dan suami mereka juga bersekolah ditempat yang sama. buat gue, bisa menjadi bagian di sekolah itu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, setidaknya sebelum semua berubah.

Awal tahun bersama teman baru merupakan masa-masa yang sulit sekaligus menyenangkan. Adaptasi dengan berbagai karakter baru bukanlah sesuatu yang mudah. Tapi seiring berjalannya waktu, hal itu mulai membuat gue terbiasa. Berada di kelas 10C, gue mulai menikmati hari demi hari gue. Sampai ketika gue temukan wanita yang kala itu membuat hari-hari gue bahagia *uhuk

Dia seorang siswi di sebuah sekolah yang berbeda sama gue. Pada dasarnya, gue sama dia dulunya cuma sahabat biasa. Sebut saja dia Hani. Gadis seumuran gue, seorang komandan tim baris sekolahnya, wanita yang aktif di organisasi sekolahnya, dan wanita keturunan orang jawa barat, yang manis dan tentunya….incaran banyak lelaki, ya, incaran banyak sekali lelaki..

Perkenalan gue sama dia berawal cukup lama. Pada awalnya gue gak nyangka bisa akrab sama dia, dia yang pada awalnya gue suruh buat bantu nyomblangin sama temennya. Tapi waktu itu, gue pupus gara-gara si cewek, sahabat Hani, tenyata ngebohongin gue. Dia, sebut saja Lina, awalnya berkata bahwa dia jomblo. Yang pada akhirnya, temen-temen gue yang kenal sama dia sering mergokin dia sama cowoknya, yang ternyata beberapa dari temen sekelas gue kenal sama dia.

Lina itu mantan temen gue SMP, tapi dia Cuma bertahan satu setengah semester lalu pindah sekolah tanpa alasan yang jelas, dan gue mulai kenal dia lagi pas masuk SMA, walaupun sekolah kami beda. Yang gue inget, dulu kita sering bercanda waktu ada acara Hiking Pramuka di sekolah, soalnya gue sama Lina sama-sama ketua regu. Jadi saat perjalanan maupun latian pramuka, tak jarang kita ketemu

Itulah pertama kali gue ngerasa sakit hati banget! Saat seorang yang baru gue kejar dengan sepenuh hati, menghianati gue. Setelah itu gue lost contact sama Lina. Tapi tetep sering smsan dan ngobrol sama si Hani. Hani ini emang orangnya asik. Bisa diajak share macem-macem. Dari mulai akademik sampai non akademik. Gue inget pertama kali ketemu sama dia, saat dia lagi habis latian taekwondo di sebuah GOR daerah kota Wates, yang saat itu juga gue lagi mau latian Badminton. Pertemuan yang singkat, tapi berkesan.

Selama gue kenal dia, banyak hal yang gue tau dari dia. Seorang wanita kelahiran Ciamis, wanita berwajah orang bandung yang selama ini gue impikan. Tapi saat itu, yang ada dipikiran gue, dia cuma sahabat gue, sahabat deket lebih dari temen biasa. Sampai suatu ketika Hani cerita kalo dia lagi deket sama seorang cowok di sekolahnya. Cowok kaya yang lebih dari gue disegala sisinya, menurut presepsi gue saat itu.

Gue yang saat itu dianggep sahabat deket Hani, cuma bisa denger suka duka dari dia aja soal cowok tadi. Sampai beberapa minggu setelah itu gue denger mereka jadian. Tak apalah, gue berusaha buat tetep dukung dia supaya langgeng, gitu kan harusnya? Itulah arti sahabat yang sesungguhnya. Setidaknya, itu juga presepsi gue saat itu. Presepsi seorang anak muda yang baru ngerasain senengnya puber saat masa-masa SMA di tahun pertama sekolahnya.

Yah, begitulah. Paling enggak ini cerita pendek yang mengambarkan kisah cinta gue yang juga singkat, dan kisah gue kenal dengan seorang wanita yang jadi sahabat deket gue buat pertama kalinya. Sahabat yang lebih dari temen, yang selalu ada buat denger cerita gue dan bersedia menceritakan kisah hidupnya sama gue di hari-harinya yang sibuk.


Kode yang Mematikan

Hari demi hari berlalu. Hani, seorang gadis cantik sekaligus sahabat deket gue tetep langgeng sama pacarnya, setidaknya untuk beberapa bulan saja. Sampai ketika dia mulai mengeluh dengan sikap nakal cowoknya. Seorang lelaki yang lebih disegala sisinya di banding gue, seorang cowok labil dengan segala kenakalannya. Hani seorang cewek yang simple, disiplin, dan selalu menjaga martabatnya sebagai seorang wanita dengan gigih. Tapi semenjak dia punya pacar, gue emang sedikit jaga jarak dan komunikasi kami, tentunya buat menjaga perasaan dia dan cowoknya.

“hai…” smsnya singkatnya.

“halo juga Han...”

“lagi apa ip? Aku ganggu gak?”

“enggak kok, kenapa Han? Kok tumben sms malem-malem gini?” Tanya gue sama Hani yang udah lumayan lama gak smsan sama gue, beberapa hari sih sebenernya. Pembicaraan itu terus berlanjut. Dia mulai menceritakan keluh kesahnya sama gue. Yahh…yang gue bisa cuma ngingetin dia buat tetep sabar sekaligus berusaha menyikapi cowoknya dengan lebih dewasa.

Beberapa hari seteah itu kita sering banget smsan. Sampai suatu hari dia bilang bener-bener gak betah sama sikap egois cowoknya, dan bisa ditebak, hubungan mereka kandas ditengah jalan. Dalam hati kecil gue, senengnya bukan main sebenernya. Setelah gue sendiri ngerasain perasaan yang emang beda dari sebelumnya.

Gue sadar, seiring berjalannya waktu, rasa sayang itu muncul. lebih dari perasaan seorang sahabat. Mulai saat itu juga, perhatian yang sebelumnya sempet saling terhenti, mulai muncul lagi. Hari-hari yang gue jalanin jadi terasa lebih berarti. Perasan mengebu-gebu untuk selalu tau dimana dia berada saat itu, sedang melakukan apa, dan pastinya apakah dia sudah makan? Hal standar tapi penuh arti yang selalu dipikirkan seorang insan pada insan lainnya yang sedang merasakan cinta bersemi di hatinya.

“halo han..? :D”

“halo juga ip :D”

“lagi apa han? Udah makan? :D”

“udah dong, kamu? Aku lagi nonton tv aja kok :)”

Emang saat itu gue akuin sebagai saat bahagia, berbunga-bunga, terbang melayang, atau apalah kata alay lain yang bisa buat ngungkapin kebahagiaan semacam itu. Maklum lah, jaman dulu banyak banget kiasan aneh buat mengungkapan kebahagiaan, yang sekarang udah jadi kata-kata “basi” yang dianggap lebay, alay, bahkan ngenes hehe





Sekitar seminggu setelahnya, gue mulai berpikiran buat memberi kode sama dia tentang perasaan gue. Melihat keadaan dia yang udah gak terlalu berlarut dalam kesedihan, karena emang dia gak ngerasa menyesal mengakhiri hubungannya sama cowok itu. Kode buat dia yang terpikir di benak gue waktu itu, mungkin bakalan gue mulai dengan sedikit mengungkit tentang problem dia putus sama cowoknya.

“Han, boleh nanya gak? Hhe”

“Boleh kok, nanya apaan??”

“kamu kok cepet banget mutusin dia? Kebangetan banget ya dianya?”

“Hmm..aku juga gatau ip, aku udah gak sreg aja sama dia yg suka ngatur2 aku sesukanya, tapi dia sendiri egoisnya minta ampun..!!”

“Ohh gitu ya hehe..gpp Han, kan masih banyak yg laen. Cowok diluar sana banyak kok :p”

“Lha kamu sendiri gimana ip? Kok gak pernah cerita soal cewek? Gimana Lina? :p Hehe” *berasa kesamber petir*

“Lina?? Hash, udah males mikir dia hehe. Emm...aku masih nunggu seseorang sih sebenernya :p”

“Cewek? Siapa? Kok gak cerita sih?”

“Cewek lah, mosok cowok! Haha Yaa kan km kemaren2 lagi sibuk urusan sekolah, lagian km juga udah punya cowok. Kan gak enak kalo keseringan smsan?”

“Emang sih..terus gimana cewek itu sekarang? Ada perkembangan? :D”

“Aku belum berani ngomong sama dia. Soalnya dia baru aja putus, jadi biar dia ngadem dulu deh :)”

“Maksudnya barusan putus? Kok aneh?” Hani mulai curiga, dan itu artinya sukses gue ngasih kode ke dia hehe.

Kode pertama, gue anggep sukses. Dia pasti mulai mensetting ulang mainset otak dia lagi buat memikirkan hal itu. Soalnya dia bukan orang yang mudah acuh terhadap sesuatu yang membuatnya bertanya tanpa ada jawaban.

Perjuangan gue lanjutin. masih dengan cara biasa, ya, smsan. Perhatian demi perhatian selalu terlontar diantara kami setiap smsan. Tentunya dengan diselingi topik lain yang menarik, jadi smsannya gak itu-itu aja. Buat anak seumuran gue waktu itu, banyak sedikitnya sms maupun kualitas isi smsnya tentu sebuah moodboster tersendiri, apakah bisa lanjut atau malah….mutung..

Itulah kelanjutan dari cerita sebelumnya. Hubungan kami dalam smsan terus berlanjut dan menunjukan peningkatan diantar keduanya. Hani, wanita yang menarik. Yang bisa membuat gue sedemikian sabarnya menunggu dan terus menunggu. Tentunya karena ada feedback dari dia disetiap interaksi yang gue lakukan sama dia. Kode yang mematikan! hehe




Post a Comment

Terimakasih telah berbagi apresiasi dengan menulis komentar dalam postingan kali ini. Semoga bermanfaat. Ingat, you are what you write. So, jangan spaming dengan berkomentar tanpa membaca terlebih dahulu.