Belajar Sandiwara Lewat Sertifikasi Guru

Sandiwara merupakan sebuah kata yang udah gak asing di telinga kita. Sandiwara itu sendiri merupakan sebuah trik dalam drama untuk menjalankan suatu pola cerita. Banyak cara yg dapat kita lakukan dalam Belgrade sandiwara. Dapat dilakuin lewat latian di sanggar drama, lakon cerita, dah bahkan lewat pengalaman pribadi.

Nah inilah yg bakal jadi landasan topik pembicaraan kali ini. Pengalaman ini terjadi selama 7 jam pelajaran dalam sehari ini. Menurut gue ini cukup menarik juga buat dibahas. Kebetulan pada hari ini banyak guru mata pelajaran yg baru menerima tamu dari dinas. Itu artinya para guru akan diawasi dalam proses pembelajaran di kelas sebagai salah satu syarat dalam menjalankan sertifikasinya. Selai guru, kita selaku siswanya juga harus menjaga image biar ntar nilai kita juga lancar pastinya.
Pada jam pertama hari ini, pelajaran berjalan normal. Namun mulai menginjak mata pelajaran yg berikutnya, mulailah sandiwara itu berjalan. Dalam kelas gue dateng seorang Ibu-ibu cukup tua yang berkaca mata cukup tebal dengan membawa dokumen berisi kertas dan penggaris panjang macam pegawai akuntansi. Gue baru sadar, mungkin beliau lah yang bakal ngawasin proses belajar-mengajar para guru nantinya. Setiap guru dituntut agar dapat menyampaikan materi dengan baik juga harus didukung dengan muridnya pula yang harus bersikap sedemikian rupa. Mulai dari sinilah peran kami dimulai. Bersandiwara jadi sekumpulan makhluk sok imut dengan menyisir dan menata klimis rambut kami.

Guru kami pun mulai proses pembelajaran. Pelajaran pertama: matematika. Ibu guru yang satu ini emang orangnya nyantai, Bu Sri namanya. Beliau terlihat sukses mengajar dengan membuat beberapa dari kami bengong dengan mulut berbusa melihat rumus-rumus yang beliau tulis di white board. Kami mengangguk paham saat beliau bertanya tentang penjelasannya tadi. Sandiwara pertama: lumayan sukses. *benerin kerah baju osis*

Hal itu berlangsung secara bergantian dari mata pelajaran satu, ke mata pelajaran lainnya. Uniknya, ada beberapa guru yang grogi dalam hal ini. Namun tidak demikian dengan wali kelas gue yang super pede. Sebut saja Bu Yayuk. Beliau adalah seorang guru yang cukup galak pada awalnya. Setidaknya sebelum kami (temen-temen sekelas) ngobrol dari hati ke hati. Cielaah...

Beliau emang terkenal dengan ke-luwes-an-nya dalam mengajar mata pelajaran, khususnya sosiologi. Tentu kami juga harus bisa bersikap sebaik mungkin dalam menerima materi pelajaran. Tak disangka, hal itu mulai terasa bagai sandiwara dalam sebuah drama. Bedanya, ending cerita ini nggak bikin mewek. Mungkin ini bisa jadi pengalaman unik dan menarik. Tau kenapa? Itu karena setelah pengawas selesai dan pergi meninggalkan kelas, keadaan pun menjadi seperti sediakala. Ramai dan gaduh, penuh dengan ucapan kotor sesama murid, saling membully temen, main hape, update status BBM, dan segala macam hal nggak bermutu lainnya. Kelas gue balik jadi ancur lagi.

Keunikan lainnya, ada beberapa guru yang sampai curhat bahwa mereka sendiri merasa gugup dalam pengawasan tersebut, termasuk wali kelas gue tadi, Bu Yayuk. Padahal dia mengajar dengan sangat baik waktu itu. Meskipun nada ngomongnya emang tinggi, tapi itu emang udah karakter beliau. Bahkan ada juga guru yang bilang kalo hari itu udah kayak waktu ujian TA kuliah dulu. Gue nggak tau apa maksudnya, dan seberapa ngeri hal itu. Maklum, gue masih anak SMA, masih polos. Gue  juga inget waktu itu emang ada beberapa guru yang sampai keringat dingin pas simulasi mengajar. Sampai-sampai sediah tissue WC gulungan gitu. Kasian. Mungkin kalo kelak gue jadi guru, gue bakal ngerasain hal yang sama ya? Hehehe...

Nah, itu tadi hal menarik yg secara langsung membuat gue sama temen-temen ngrasa ikut andil dalam peristiwa itu. Mungkin hal itu pula yg bikin kami jadi nggak habis pikir mengingatnya. Sungguh aneh, tapi nyata. Dunia berubah ketika para pejabat negara api itu datang mengawasi kami dalam belajar.

Post a Comment

Terimakasih telah berbagi apresiasi dengan menulis komentar dalam postingan kali ini. Semoga bermanfaat. Ingat, you are what you write. So, jangan spaming dengan berkomentar tanpa membaca terlebih dahulu.